Selasa, 09 Juli 2013

SILSILAH / TAROMBO NAINGGOLAN


Si Raja Batak mempunyai 3 orang anak yaitu: Guru Tateabulan(Ilontungon), Raja Isumbaon dan Toga laut. Dari Garis keturunan Guru Tateabulan lahirlah 7 orang anak dan 1 boru, salah satunya ialah Tuan Sariburaja. Kemudian Tuan Sariburaja mempunyai 3 orang anak dari pernikahannya dengan adiknya sendiri yaitu si Boru Pareme, salah satu anaknya yaitu si Raja Lontung. Dan si Raja Lontung punya 7 orang anak yaitu Sinaga, Situmorang, Pandiangan, Nainggolan, Simatupang, Aritonang dan Siregar.
Merunut tarombo(silsilah) maka Toga Nainggolan berada pada sundut(generasi) ke V.
Lalu Toga Nainggolan mempunyai 2 orang anak yaitu: Sibatu dan Sihombar pada sundut ke VI, Sibatu punya 2 orang anak yakni si Batuara dan Parhusip dan Sihombar punya 4 orang anak yakni Lumbannahor, Mogot Pinaungan, Lumbansiantar dan Hutabalian pada sundut ke VII.

Mogot Pinaungan di sundut ke X dan Mogot Pinaungan mempunyai 2 orang anak yaitu Tanjabau yang menjadi Lumbantungkup dan Datu Parulas Parultop menjadi Lumbanraja pada sundut ke XI.
Datu Parulas Parultop Lumbanraja mempunyai anak sebanyak 13 orang dari enam orang permaisuri, di sundut ke XII. Anak-anak dari Datu Parulas ialah sebagai berikut:
1.Pusuk (Siraja Pamalingan Guru Panuju).
2.Buaton(Mogot Kualu Darmahasi).
3.Mahulae (Tuan Ampir Sarma Hata).
4.Anak Gajut (Tuan Rangga)
5.Siboro(Note: hanya sebagian)
6.Si Raja Talutuk
7.Toga Sahata.
8.Sabungan Raja.
9.Raja Tinunjungan.
10.Tuan Baringin.
11.Guru Tinandangan
12.Raja Tomuan.
13.Raja Bonan Dolok.

Sumber: http://benzxnainggolan.wordpress.com

5 Perkawinan Yang Dilarang Adat Batak Toba

Perkawinan bagi masyarakat Batak khususnya orang Toba adalah hal yang wajib untuk dilaksanakan, dengan menjalankan sejumlah ritual perkawinan adat Batak. Meski memiliki keunikan dan ragam keistimewaan yang terkandung dalam acara tersebut, upacara perkawinan adat Batak Toba juga terkenal sangat "merepotkan" jika kita bandingkan dengan upacara perkawinan di daerah lainnya di Indonesia.
Dalam perkawaninan adat Batak Toba juga ada aturan-aturan tertentu yang harus ditaati, dan hukumannya sangat tegas yang dianut oleh orang Batak sejak dulu kala. Dibeberapa daerah dan aturan yang berlaku yang dilaksankan oleh penatua masing-masing daerah berbeda-beda, ada yang dibakar hidup-hidup, dipasung, dan buang atau diusi dari kampung serta dicoret dari tatanan silsilah keluarga. Meskipun era saat ini beberapa aturan yang diberlakukan sejak dahulu kala, sebagian orang Batak kini sudah ada melanggarnya.
Berikut ini 5 Larangan dalam Perkawinan Adat Batak Toba yang dirangkum oleh Gobatak:
Perkawinan terlarang adat batak toba
Ilustrasi: Perkawinan terlarang adat batak toba

 

Namarpadan

Namarpadan/ padan atau ikrar janji yang sudah ditetapkan oleh marga-marga tertentu, dimana antara laki-laki dan perempuan tidak bisa saling menikah yang padan marga. Misalnya marga-marga berikut ini:
1.Hutabarat & Silaban Sitio
2.Manullang & Panjaitan
3.Sinambela & Panjaitan
4.Sibuea & Panjaitan
5.Sitorus & Hutajulu (termasuk Hutahaean, Aruan)
6.Sitorus Pane & Nababan
7.Naibaho & Lumbantoruan
8.Silalahi & Tampubolon
9.Sihotang & Toga Marbun (termasuk Lumbanbatu, Lumbangaol, Banjarnahor)
10.Manalu & Banjarnahor
11.Simanungkalit & Banjarnahor
12.Simamora Debataraja & Manurung
13.Simamora Debataraja & Lumbangaol
14.Nainggolan & Siregar
15.Tampubolon & Sitompul
16. Pangaribuan & Hutapea
17. Purba &  Lumbanbatu
18. Pasaribu & Damanik
19.Sinaga Bonor Suhutnihuta & Situmorang Suhutnihuta
20.Sinaga Bonor Suhutnihuta & Pandeangan Suhutnihuta

 

Namarito

Namarito (ito), atau bersaudara laki-laki dan perempuan khusunya oleh marga yang dinyatakan sama sangat dilarang untuk saling menikahi. Umpanya seprti parsadaan Parna (kumpulan Parna), sebanyak 66 marga yang terdapat dalam persatuan PARNA. Masih ingat dengan legenda Batak "Tungkot Tunggal Panaluan"? Ya, disana diceritakan tentang pantangan bagi orangtua yang memiliki anak "Linduak" kembar laki-laki dan perempuan. Anak "Linduak" adalah aib bagi orang Batak, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kedua anak kembar tersebut dipisahkan dan dirahasiakan tentang kebeadaan mereka, agar tidak terjadi perkawinan saudara kandung sendiri.

 

Dua Punggu Saparihotan

Dua Punggu Saparihotan artinya adalah tidak diperkenankan melangsungkan perkawinan antara saudara abang atau adik laki-laki marga A dengan saudara kakak atau adik perempuan istri dari marga A tersebut. Artinya kakak beradik laki-laki memiliki istri yang ber-kakak/ adik kandung, atau 2 orang kakak beradik kandung memiliki mertua yang sama.

 

Pariban Na So Boi Olion

Ternyata ada Pariban yang tidak bisa saling menikah, siapa dia sebenarnya? Bagi orang Batak aturan/ ruhut adat Batak ada dua jenis untuk kategori Pariban Na So Boi Olion, yang pertama adalah Pariban kandung hanya dibenarkan "Jadian" atau menikah dengan satu Pariban saja. Misalnya 2 orang laki-laki bersaudara kandung memiliki 5 orang perempuan Pariban kandung, yang dibenarkan untuk dinikahi adalah hanya salah satu dari mereka, tidak bisa keduanya menikahi pariban-paribannya. Yang kedua adalah Pariban kandung/ atau tidak yang berasal dari marga anak perempuan dari marga dari ibu dari ibu kandung kita sendiri. Jika ibu yang melahirkan ibu kita ber marga A, perempuan bermarga A baik keluarga dekat atau tidak, tidak diperbolehkan saling menikah.

 

 Marboru Namboru/ Nioli Anak Ni Tulang

Larangan berikutnya adalah jika laki-laki menikahi boru (anak perempuan ) dari Namboru kandung dan sebaliknya, jika seorang perempuan tidak bisa menikahi anak laki-laki dari Tulang kandungnya.

Sumber: http://www.gobatak.com

Jumat, 21 Juni 2013

Partuturan Batak Toba


Partuturan Batak Toba adalah merupakan sistem kekerabatan Batak Toba. Aku yakin banyak dari kita yang belum mengetahui tentang Partuturan walau kita orang batak asli sekalipun. Biasanya ini terjadi kepada orang batak yang memang lahir di kota dan telah dibesarkan pun di kota bukan di kampungnya sendiri, sehingga dia tidak peduli lagi dengan adatnya sendiri. Orang yang tidak mengerti Partuturan biasanya dikatakan “dang maradat” (tidak punya adat). Biasanya ini terjadi kepada anak-anak muda yang memang lahir dan besarnya bukan lagi dikampungnya. Maka dari itu aku mau berbagi pengetahuan tentang sebutan-sebutan yang seharusnya kita katakan kepada sanak saudara kita atau orang lain yang bersuku batak. Baik itu yang lebih tua, lebih muda, atau sepantaran dengan kita. Jangan sampai salah ucap. Karena kita bisa di cap “tidak tahu adat”. Baik, mari kita lihat dibawah ini sebutan-sebutan yang tepat dan benar untuk kita ucapkan.

Daftar istilah sebutan:

Uda, Amang Uda, Bapa Uda :
-        panggilan kita terhadap adik laki-laki dari ayah kita,
-        panggilan kita terhadap semarga yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi ayah kita lebih tua darinya,
-        panggilan kita kepada suami dari adik perempuan ibu kita.

Inang Uda, Nanguda :
-        panggilan kita terhadap istri dari adik laki-laki ayah kita,
-        panggilan kita terhadap istri dari semarga kita yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi ayah kita lebih tua darinya,
-        panggilan kita kepada istri dari adik perempuan ibu kita.

Amang Tua, Bapa Tua (Pak Tua) :
-        panggilan kita terhadap Saudara laki-laki yang lebih tua dari ayah kita,
-        panggilan kita terhadap semarga yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi ayah kita lebih muda darinya,
-        panggilan kita kepada suami dari kakak perempuan ibu kita.